Memahami Dakwah
Naufal, 24 Januari 2017

Secara bahasa dakwah berasal dari kata dasar (masdar) kata kerja da'a-yad'u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan.  Secara istilah, dakwah berarti kegiatan yang bersifat mengajak dan memanggil orang untuk taat kepada Allah SWT sesuai dengan garis akidah, syariah dan ahlak Islamiyah.

Kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata ''ilmu'' dan kata ''Islam'', sehingga menjadi ''ilmu dakwah'' dan ''dakwah Islam''.  Ilmu dakwah didefinisikan sebagai suatu ilmu yang berisi cara-cara dan tuntunan-tuntunan tentang bagaiamana seharusnya menarik perhatian orang lain untuk menganut, menyetujui dan atau melaksanakan suatu ideologi/agama, pendapat atau pekerjaan tertentu.

Orang yang menyampaikan dakwah disebut ''dai'' (juru dakwah), sedangkan orang yang menjadi obyek dakwah disebut mad'u. Para ulama berlainan pendapat dalam menentukan hukum menyampaikan dakwah Islam. Ada yang menetapkannya sebagai fardu kifayah (kewajiban kolektif) ada pula yang menetapkan fardu ain.

Semuanya sama-sama mendasarkan pendapatnya kepada Alquran surah Ali Imran ayat 104.  ''Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.''

Kata minkum dalam ayat di atas ada yang menganggap mengendung pengertian tab'id (bagian), sehingga hukum dakwah menjadi fadu kifayah. Sedangkan, sebagian lainnya menganggapnya sebagai za'idah (tambahan), sehingga hukumnya menjadi fardu ain.

Tujuan utama dakwah adalah mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat yang diridhai oleh Allah SWT. Yakni dengan menyampaikan nilai-nilai yang dapat mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan yang diridhai Allah SWT sesuai dengan segi atau bidangnya masing-masing.

Setelah diangkat menjadi rasul Allah SWT, Rasulullah SAW melakukan dakwah Islam baik secara lisan, tulisan maupun perbuatan.  Beliau memulai dakwahnya kepada istrinya, keluarganya dan sahabat karibnya. Awalnya dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi, karena situasi tak memungkinkan. Namun, setelah jumlah sahabat yang memeluk Islam bertambah banyak, dakwah  pun mulai dilakukan secara terang-terangan.

Rasulullah pun melakukan dakwah dengan tulisan, melalui surat yang berisi seruan, ajakan atau penggilan untuk menganut agama Islam kepada raja-raja dan kepala-kepala pemerintahan dari negara-negara yang bertetangga dengan kawasan Arab.

Raja-raja yang mendapat surat atau risalah dari Nabi SAW itu antara lain Kaisar Heraclius dari Bizantium, Mukaukis dari Mesir, Kisra dari Persia dan Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia).  (Disarikan dari Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta).

 

 

SUMBER: Republika

Informasi Terkait

 
Contoh: Paket umrah bulan desember
Tutup