PILAR TAKWA Ditulis oleh: Naufal, 12 Juni 2018

Oleh Rahmaji Asmuri

 

WAHANAHAJIUMRAH.COM,  --  Tujuan dari pelaksanaan ibadah puasa ramadhan adalah menjadi orang yang bertakwa, sebagaimana firman Allah Ta'ala “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” QS Al Baqarah [2]: 183.

 

Untuk mendapatkan predikat takwa, jika menilik dari ayat tersebut di atas, setidaknya ada tiga pilar utama yang harus dipancangkan oleh seorang muslim untuk menopang kehidupan, guna meraih kehidupan yang hasanah, baik di dunia maupun di akhirat.

Pilar Ketauhidan merupakan tonggak pokok yang harus ditanamkan. Sapaan mesra Allah bagi hambanya yang terpilih merupakan cerminan, bahwa pelaksanaan ibadah puasa hanya ditujukan bagi orang-orang yang memiliki pemahaman ketauhidan yang komprehensif, diikuti dengan aktulisasi bentuk keimanan atas rangkaian Rukun Iman yang terdiri dari 6 perkara; iman kepada Allah, Malaikat, Rasul, Kitab, Hari Akhir serta Qadha & Qadar.

 

Pilar Ibadah juga merupakan toggak yang tidak dapat diabaikan. Kewajiban yang dibebankan kepada orang yang beriman tidak sebatas hanya puasa, namun tersirat dibalik itu adalah pelaksanaan Rukun Islam yang lima; Syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji ke baitullah. Mustahil rasanya, orang bisa sampai pada derajat takwa jika ia hanya melaksanakan salah satu atau sebagian kecil saja dari rukun Islam, terkecuali zakat dan haji yang dikhususkan bagi orang yang mampu.

 

Pilar Sosial adalah pilar yang tidak kalah penting dibandingkan dengan kedua tonggak tersebut di atas. Karena pilar sosial dapat dijadikan indikasi amal sholeh seseorang terhadap masyarakat yang berada disekitarnya, seperti yang dijelaskan Allah SWT dalam firman-Nya QS Ali 'Imran [3]; 133-135, tentang karakteristik orang yang bertakwa. Pertama, gemar berinfaq baik dikala lapang maupun susah. Berinfaq akan lebih tinggi nilainya disisi Allah jika konsidi pada saat itu sedang kekurangan dan takut menjadi miskin, namun mampu memberikan harta atau sesuatu yang terbaik dan disayangi.

 

Kedua, menahan amarah. Kita telah mengetahui bahwa pekerjaan yang paling melelahkan adalah ketika kita dapat meluapkan amarah kepada orang yang berhak dan pantas untuk dimarahi. Namun Rasulullah SAW berulang kali menyeru ummatnya agar tidak mudah marah melalui hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim “Janganlah engkau mudah marah. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan nafsunya ketika marah.”

 

Ketiga, memaafkan kesalah orang lain. Mampu menahan amarah tanpa memaafkan kesalahan orang lain bukanlah tindakan terpuji, malah berpeluang menimbulkan penyakit fisik dan mental karena menahan dendam yang membara. Penulis populer Dale Carnegie mengatakan, 'Kita tidak cukup suci untuk mencintai musuh-musuh kita. Tapi, demi kesehatan dan kebahagiaan kita, lupakan mereka dan maafkan mereka!' Ungkapan tersebut senada dengan firman Allah Ta'ala “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS Al A'raaf [7]: 199).

 

Keempat, sadar dan bertobat atas kesalahan. Sebagai makhluk sosial tentu kita tidak bisa menghindarkan diri dari berbagai interaksi, yang kemungkinan dapat berujung pada sebuah kesalahan. Baik kesalahan dengan mendzalimi diri sendiri maupun menganiaya orang lain. Manakala tersadar akan kesalahan tersebut, sebagai orang yang beriman hendaknya bersegera untuk mengingat Allah dan memohon ampun kepadaNya.

 

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hambaNya yang bertakwa, setelah kita menunaikan seluruh rangkaian ibadah selama bulan Ramadhan, wallahu a'lam bish shawab.


ARTIKEL TERKAIT

Tanya Ustadz

FORM TANYA USTADZ