Meminta Maaf Ditulis oleh: Naufal, 15 Juni 2018

Oleh Rahmaji Asmuri

 

WAHANAHAJIUMRAH.COM,  --  Meminta maaf adalah perbuatan yang mulia, bahkan sangat dianjurkan manakala kita melakukan kesalahan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apa pun, maka hari ini ia wajib meminta agar perbuatannya tersebut dihalalkan (dimaafkan) oleh saudaranya, sebelum datang hari saat tidak ada dinar dan dirham, karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kedzalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi.” (HR. Bukhari).

Kata ”Al-yauma” (hari ini) dalam hadits di atas menunjukkan bahwa meminta maaf itu dapat dilakukan kapan saja, dan yang paling baik adalah mensegerakannya, karena kita tidak mengetahui kapan ajal akan menjemput.

Dari hadits ini jelaslah bahwa Islam mengajarkan untuk meminta maaf, jika kita berbuat kesalahan kepada orang lain. Adapun meminta maaf tanpa sebab dan dilakukan kepada semua orang yang ditemui maka itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi. Atau dalam konteks kekinian, meminta maaf melalui media social dengan cara membroadcast kepada seluruh kontak pertemanan juga tidak ditemukan dalam ajaran Islam.

Jika ada yang berkata, “Manusia-kan tempat salah dan khilaf serta sangat mungkin berbuat salah kepada orang lain tanpa disadari.” Yang dikatakan itu memang benar, namun apakah serta-merta kita meminta maaf kepada semua orang yang kita temui? Mengapa Rasulullah  dan para sahabat tidak pernah berbuat demikian? Padahal, mereka adalah orang-orang yang paling khawatir akan dosa. Selain itu, kesalahan yang tidak disengaja atau tidak disadari itu tidak dihitung sebagai dosa di sisi Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Al Baihaqi dan Ibnu Hazm yang dinilai sahih oleh Al Albani dalam kitab Shahih Ibnu Majah, “Sesungguhnya, Allah telah memaafkan umatku yang berbuat salah karena tidak sengaja, karena lupa, atau karena dipaksa.”

Dengan demikian, orang yang meminta maaf tanpa sebab kepada semua orang, bisa terjerumus pada sikap ghuluw (berlebihan) dalam beragama. Begitu pula, mengkhususkan pada suatu waktu untuk meminta maaf. Kebiasaan ini akan menjadi aspek negatif karena menunda permintaan maaf terhadap kesalahan yang dilakukan kepada orang lain hingga menjelang Ramadhan atau lebaran tiba.

Di sisi lain, bagi kita yang melakukan kesalahan bertepatan dengan bulan Sya’ban atau Ramadhan, tidak ada larangan memanfaatkan waktu menjelang Ramadhan untuk meminta maaf kepada orang yang pernah dizaliminya pada bulan tersebut. Asalkan, tidak menjadikannya sebagai kebiasaan, sehingga menjadi aktifitas rutin yang dilakukan setiap tahun dan dilakukan tanpa sebab. Wallahu a’lam


ARTIKEL TERKAIT

Tanya Ustadz

FORM TANYA USTADZ