Sastra di Masa Kekhalifahan, Seperti Apa? Ditulis oleh: Anggi, 17 Januari 2019

WAHANAHAJIUMRAH.COM,  -- Sejarah mencatat, sastra sangat berkembang pesat pada era keemasan Islam. Pada masa kekhalifahan Islam berjaya, sastra mendapat perhatian yang amat besar dari para penguasa Muslim.

Tak heran bila pada zaman itu muncul sastrawan Islam yang terkemuka dan berpengaruh. Pada era kekuasaan Dinasti Umayyah (661?750 M), gaya hidup orang Arab yang berpindah-pindah mulai berubah menjadi budaya hidup menetap dan bergaya kota.

Pada era itu, masyarakat Muslim sudah gemar membacakan puisi dengan diiringi musik. Pada zaman itu, puisi masih sederhana. Puisi Arab yang kompleks dan panjang disederhanakan menjadi lebih pendek dan dapat disesuaikan dengan musik sehingga puisi dan musik pada masa itu seperti dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan.

Sastra semakin berkilau dan tumbuh menjadi pri- madona pada era kekuasaan Daulah Abbasiyah--yang berkuasa di Baghdad pada abad ke-8 M. Masa keemasan kebudayaan Islam serta perniagaan terjadi pada saat Khalifah Harun Ar-Rasyid dan putranya, Al- Ma'mun, berkuasa.

Pada era itu, prosa Arab mulai menempati tempat yang terhormat dan berdampingan dengan puisi. Puisi sekuler dan puisi keagamaan juga tumbuh beriringan.

Para sastrawan pada era kejayaan Abbasiyah tak hanya menyumbangkan kontribusi penting bagi perkembangan sastra pada zamannya saja. Namun, juga turut memengaruhi perkembangan sastra di Eropa era Renaisans. Salah seorang ahli sastrawan yang melahirkan prosa-prosa genius pada masa itu bernama Abu Uthman Umar bin Bahr al-Jahiz (776-869 M)--cucu seorang budak berkulit hitam.

Berkat prosa-prosanya yang gemilang, sastrawan yang mendapatkan pendidikan yang memadai di Basra, Irak, itu pun menjadi intelektual terkemuka pada zamannya. Karya terkemuka Al-Jahiz adalah kitab al-Hayawanatau buku tentang binatan', sebuah antologi anekdot-anekdot binatang--yang menyajikan kisah fiksi dan nonfiksi. Selain itu, karya lainnya yang sangat populer adalah kitabal-Bukhala,`Book of Misers', sebuah studi yang jenaka, namun mencerahkan tentang psikologi manusia.

Pada pertengahan abad ke-10 M, sebuah genre sastra di dunia Arab kembali muncul. Genre sastra baru itu bernama maqamat, sebuah anekdot yang menghibur dan diceritakan oleh seorang pengembara yang menjalani hidupnya dengan kecerdasan.

Maqamat ditemukan oleh Badi' al-Zaman al- Hamadhani (wafat tahun 1008 M). Dari empat ratus maqamat yang diciptakannya, kini yang masih tersisa dan bertahan hanya 42 maqamat.

 

SUMBER: republika.co.id


ARTIKEL TERKAIT

Tanya Ustadz

FORM TANYA USTADZ