Catatan Ustad

Muhammad Al-Fatih
Ginanjar Maulana, 26 Juli 2020

Murad Amirul Mu’minin masa pemerintahan Utsmani Turki membawa putra beliau yang masih kecil Muhammad bin Murad menuju guru ngaji Syekh Ahmad Al-Qurany, beliau mengatakan, aku serahkan Muhammad padamu dan ini tongkat besi, jika ia tak mau belajar pukul ia dengan besi ini.

Dan betul, saat Muhamaad tak mau belajar ia dipukul, membuat Muhammad takut dan mulai meninggalkan kehidupan mewah sultan dan mulai serius belajar, dengan keseriusan ini membuatnya mampu menghafal Al-Quran sebelum usia 10 tahun, sekaligus bisa menguasai tiga bahasa , Arab, Persia dan Turki.

Gurunya ini dengan penuh keyakinan mampu sukses menanamkan keyakinan kuat pada Muhamad, bahwa dialah yang kelak akan menaklukkan Konstantinopel sebagaimana prediksi nabi .

Saat usianya memasuki tujuh tahun, gurunya itu mengajaknya berenang dilaut Marmara dan saat Konstantinopel terlihat jelas, gurunya berkata, itulah yang kamu akan taklukkan kelak.

Saat usia 12 tahun, Muhammad dilatih menjadi pemimpin dengan ditinjuknya ia menjadi gubernur, dan saat terlihat kemampuannya yang bagus dan mampu, pada usia 14 tahun Murad sang ayah menyerahkan kekuasaan khilafah pada Muhammad .

Saat ia telah menjadi khalifah, ia memanggil gurunya lalu mengatakan, aku masih menyimpan dendam pada guru, mengapa engkau memukulku dulu dengan besi dan hingga kini aku ingin sekali membalas.

Gurunya menjawab, aku ingin mengajarkan engkau rasa orang yang di zalimi, dendamnya tak akan pernah padam, hingga akhirat kelak, karenanya jangan pernah berbuat zalim pada rakyatmu, Muhammadpun menangis dan mencium kepala gurunya itu .

Menjadi orang terpilih itu butuh kerja keras, membuang kekecewaan-kekecewaan dan melatih jiwa untuk selalu adil, baik saat senang atau benci dalam memutus perkara hidup.

Ilmu yang cukup, sikap yang tegas dan selalu berlapang dada adalah kunci sukses Muhammad menaklukkan Konstantinopel yang sangat sarat dengan kemukjizatan

Informasi Terkait

 
Contoh: Paket umrah bulan desember
Tutup