Jangan Pernah Menistakan Kesakralan Al-Quran Ditulis oleh: Naufal, 09 November 2016

Oleh : Ust. Syaff

Al-Quran adalah kalam Allah yang sangat sakral bagi kaum muslimin seluruh dunia termasuk Indonesia, diantara bentuk kesakralan Al-Quran ini adalah, umat muslimin senantiasa mengajarkan kitab suci ini terhadap anak-anak mereka sejak usia dini, untuk kemudian menjadi pedoman hidupnya diusia dewasa hingga tua nanti,

Karena kesakralan Al-Quran jugalah kaum muslimin seluruh dunia berlomba-lomba memfestivalkan segala sesuatu yang berhubungan dengan Al-Quran, mulai dari Lomba musabaqah tilawatil quran, lomba musabaqah hifzil quran, hingga lomba hafiz cilik, semua itu menandakan betapa mulianya Quran ini bagi kaum muslimin, disamping itu juga kaum muslimin sangat yakin diakhirat kelak salah satu pertanyaan malaikat kepada kaum muslimin adalah, “Apa kitab sucinya didunia?” Jika menjawab Al-Quran, maka ia akan digolongkan bersama kaum muslimin lainnya, namun sebaliknya, jika menjawab selain Al-Quran sebagai kitab sucinya maka ia akan dimasukkan dalam golongan kaum non-muslim selanjutnya nasibnya akan sama dengan mereka.

Atas kesakralan dan kesucian inilah, Al-Quran kemudian dibela oleh kaum muslimin. Tak boleh ada orang yang melecehkannya termasuk orang islam sekalipun, apalagi kaum non-muslim, sebab Al-Quran adalah keyakinan dan idiologi yang sudah ditanamkan secara turun temurun dan tak akan mungkin bisa dipisahkan antara sebuah keyakinan dengan seorang muslim, karenanya saat ada yang mencoba melecehkan dan menghina Al-Quran, maka hampir bisa dipastikan kaum muslimin pasti akan bergerak melawan penistanya, sekaligus akan membela habis-habisan kesucian dan kesakralan kitab sucinya.

Karenanya tak ada cara bagi para penista Al-Quran kecuali menempuh jalur hukum, permintaan maaf seorang penista terhadap kekeliruannya akan diterima kaum muslimin, sebab memang agama islam senantiasa mengajarkan untuk selalu memberi maaf, namun hukum tetaplah harus ditegakkan.

Dahulu pada zaman Nabi, ada seseorang yang mengadukan salah seorang sahabatnya kepada baginda Nabi karena mencuri barang-barangnya, Nabi pun mengatakan, potong tangannya, sahabat yang mengadukan tadi mengatakan, “Yaa Nabi aku telah memaafkannya”, kemudian Nabi mengatakan, “Ya, maafmu diterima namun itu sebelum engkau melaporkannya, ketika engkau telah melaporkannya, maka hukum Allah harus ditegakkan, potonglah tangannya”.

Penggunaan jalur hukum ini juga untuk menjaga kerukunan toleransi antar umat beragama, sebab jika penistaan terhadap kitab suci dibiarkan tidak diproses hukum, maka dikhawatirkan nanti akan ada penistaan-penistaan baru terhadap kesakralan agama lain dan membuat ketersinggungan antar pemeluknya, kemudian jika tidak diproses secara hukum maka itu akan membuat suasana permusuhan dan perpecahan antar anak bangsa akan sangat mudah terpecah belah.

Karenanya tak ada cara dan solusi bagi para penista Al-Quran kecuali menempuh jalur hukum, agar kedamaian dan ketentraman tetap terpelihara. Nusantara yang damai ini janganlah dirusak hanya karena melindungi penista kitab suci, sebab jika penista kitab suci tak diproses secara hukum, khawatirlah manusia dengan kemurkaan pemilik kitab suci ini.  Jika Allah telah murka, akan sangat mudah Dia akan memusnahkan para penistanya dan juga akan memusnahkan mereka yang tak mau membela kalam sucinya.  

Wallahu’alam Bish-shawab...


ARTIKEL TERKAIT

Wahana Haji Umrah
Wahana Haji Umrah