Belajar dari Shalat Berjamaah
Muhammad Naufal Rafiuddin, 31 Mei 2018

Oleh :  Rahmaji Asmuri

 

WAHANAHAJIUMRAH.COM, --  Shalat berjamaah merupakan sebuah miniatur sistem kepemimpinan dalam kehidupan bermasyarakat. Di sana terdapat seorang imam sebagai pemimpin dan para makmum sebagai orang yang dipimpin.

Bagaimana kriteria imam? Nabi Muhammad SAW bersabda, “Orang yang menjadi imam bagi suatu kaum ialah orang yang paling baik bacaan Alqurannya. Bila sama-sama baik bacaannya, diambil yang paling ‘alim dalam bidang agama. Bila sama-sama ‘alim, dipilih yang paling dahulu hijrahnya. Bila sama-sama terdahulu dalam berhijrah, maka dipilih yang paling tua umurnya (HR Muslim)”

Berdasar hadits di atas, setidaknya ada empat kriteria dasar yang dapat kita jadikan acuan dalam menetapkan seorang pemimpin; Pertama, orang yang paling baik bacaan Alqurannya diibaratkan dengan orang yang qualified dan credible terhadap apa yang dipimpinnya. Kepemimpinan tidak akan berjalan dengan baik manakala dijalankan oleh orang yang tidak ahli dan tidak mengerti terhadap permasalahan yang dipimpinnya. Kedua, orang yang ‘alim dalam bidang agama, diasumsikan dengan orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan tidak terkungkung dalam kepemimpinannya. Pemimpin yang berwawasan sempit dan picik akan menimbulkan efek yang menyengsarakan orang yang dipimpin. Ketiga, orang yang paling dahulu hijrahnya, dianalogikan dengan orang yang melakukan reformasi. Karena makna hijrah dan makna reformasi sangat mirip yaitu perubahan radikal dengan tujuan untuk perbaikan sesuatu dalam suatu negara atau masyarakat. Keempat, Orang yang paling tua usianya, diilustrikan dengan orang yang berpengalaman dalam sebuah kepemimpinan. Kepemimpinan belum akan sempurna manakala dipimpin oleh orang yang belum berpengalaman.

Kriteria ini semakin kaya dengan tambahan syarat, bahwa seorang imam dalam shalat berjamaah, tidak boleh berbuat fasik (melakukan dosa besar). Analoginya dalam kepemimpinan masyarakat, seorang pemimpin tidak boleh melakukan hal-hal yang termasuk dalam kategori merugikan masyarakat, seperti: korupsi, kolusi, nepotisme, dan perbuatan maksiat lainnya.

Ketika shalat berlangsung dan imam melakukan kesalahan, makmum berhak dan harus mengingatkan dengan cara yang sudah diatur dalam ketentuan shalat. Begitupun dalam kepemimpinan, pemimpin harus bersedia diingatkan dan mentaati peringatan itu. 

Ketika sang imam mengalami uzur (sakit atau mohon maaf; kentut) maka sang imam harus digantikan oleh orang yang berada persis di belakangnya. Karena itu, makmum yang berdiri persis di belakang imam haruslah seseorang yang juga memiliki kriteria imam. Begitu pula dalam kepemimpinan, kita jangan hanya melihat orang nomor satunya saja, setidaknya orang keduanya pun harus memiliki kualitas yang setara (Wallahu a’lam bis-Shawab).

Informasi Terkait

 
Contoh: Paket umrah bulan desember
Tutup