Memaknai Rukuk Ditulis oleh: Naufal, 17 November 2018

WAHANAHAJIUMRAH.COM,  --  Rukuk merupakan salah satu rukun dalam shalat. Rukuk yang memiliki akar kata raka'ah bernilai satu rakaat dalam shalat. Seorang makmum yang tertinggal dalam shalat dan masih bisa mengejar hingga imam rukuk, dia tidak perlu mengulangi rakaat shalatnya.

Rukuk dilakukan seraya bertakbir dengan mengangkat kedua tangan sampai sejajar dengan ke dua pundak atau telinga. Kepala diposisikan sejajar dengan punggung dan kedua tangan di kedua lutut dengan jemari merenggang.

Dr Sa'id bin 'Ali bin Wahf al- Qafthani dalam Ensiklopedia Shalat menjelaskan, Rasulullah SAW diam sejenak setelah selesai membaca ayat-ayat suci Alquran. Beliau diam dan menghela napas sehingga bacaan tidak bersambungan dengan rukuk. Namun, diam nya Rasulullah SAW berbe da dengan saat diam sebelum mem baca al-Fatihah. Ketika itu, Nabi SAW membaca doa istiftah.

Posisi rukuk Nabi SAW benar-benar sempurna. Dari Wabishah bin Ma'bad Ra, dia pernah menyaksikan Rasulullah SAW mengerjakan shalat. Jika rukuk, dia meluruskan punggungnya sehingga jika air dituangkan di atasnya akan tetap bertahan di atasnya karena sangat lurus. Abu Hamid as-Sa'idi menjelaskan, dia berkata kepada beberapa orang dari para sahabat Nabi.

Dia melihat beliau jika bertakbir mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dengan kedua pundaknya. Jika rukuk, dia menempatkan keduatangannya di kedua lututnya (dan merenggang kan jemarinya) kemudian beliau membungkukkan punggungnya.

Dalam lafaz lainya disebutkan, "Kemudian rukuk dan meletakkan kedua tangannya di atas lu tutnya. Seakan-akan beliau meng genggam keduanya. Kemu dian beliau membuat tangan be liau seperti busur panah. Lalu, ke dua tangan itu merenggang (men jauh) dari kedua lambungnya (membentuk busur)."

Nabi SAW tumakninah dalam rukuknya. Ini berdasarkan pada ung kapan Hudzaifah kepada se seorang yang tidak sempurna dalam rukuk dan sujud. Dia ber kata kepada orang itu. "Kamu be lum shalat. Jika kamu mati, kamu mati dalam keadaan tidak fitrah yang (padanya) Allah menciptakan Muhammad."

Rukuk memiliki bacaan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Beberapa bacaan rukuk yakni 'Subhaana Robbiyal 'Azhimi' ("Maha suci Rabbku yang Maha agung"). Selain itu, Al Qahthani mengungkapkan, ada bacaan tambahan lain yang bisa dirapalkan seperti apa yang diriwayatkan Nabi SAW.

"Subhanakallahumma Robbanaa wa bihamdikalla hum maghfirli" artinya "Maha suci Engkau, ya Allah, Rabb kami dan segala puji hanya bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku." "Subbuhun quddusun robbul malaikati warruuh." artinya "Mahasuci, Mahakudus, Rabb para malaikat dan ruh. "

"Allahummalaka roka'tu wa bika amantu walaka aslamtu anta robbi khasya'a sam'i wa ba shari wa mukkhi wa 'azhmi wa'as habi" artinya "Ya Allah, untuk-Mu aku rukuk, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu pula aku berserah diri, pendengaran, penglihatan, otak, tulang, dan uratku khusyu' (tunduk) kepada-Mu."

Nabi SAW melarang membaca Alquran ketika rukuk dan su jud. Nabi SAW bersabda, "Ketahuilah, sesungguhnya aku dilarang membaca Alquran pada saat sedang rukuk dan sujud. Adapun pada saat rukuk maka agungkanlah Rabb yang Mahaperkasa lagi Mahamulia. Sedangkan, dalam sujud, bersungguh-sungguhlah dalam doa sehingga doa kalian layak untuk dikabulkan."

Pendiri Quran and Sunnah Solution Ustaz Adi Hidayat menjelaskan, frekuensi membaca bacaan dalam rukuk sesungguhnya tidak dibatasi. Ketika rukuk, se orang bisa membaca sekali, dua kali, tiga kali atau selebihnya. Menurut dia, esensi bacaannya bukan berapa kali kuantitas. Namun, jumlah bilangan itu menunjukkan penghayatan kita kepada makna kalimat yang kita baca kan.

Dia menjelaskan, rukuk menjadi salah satu sarana ampuh untuk berdoa kepada Allah SWT. Menurut dia, di dalam rukuk, ada peluang besar terkabulnya doa seorang Muslim. Dia pun menyitir salah satu ayat dalam Alquran. "…Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari Fadhilah Allah dan ridhwan-Nya… " (QS al-Fath: 29).

Fadhilah merupakan salah satu keutamaan khususnya dalam urusan dunia. Doa-doa untuk meraih keutamaan tersebut bisa dihajatkan ketika rukuk. Doa diucapkan dalam hati dengan keyakinan tanpa keraguan.

Tak hanya itu, doa ini pun bersifat paling uta ma. Artinya, nomor satu da lam urusan dunia. Namun, kita semestinya cerdas dalam memaknai keutamaan ini. Artinya, keutamaan tersebut harus melihat apa yang kita butuhkan dan be nar-benar cocok dengan diri kita. Bukan semata-mata keinginan.

Bagaimana dengan ridhwan? Ustaz Adi menjelaskan, ridhwan bermakna semua aktivitas yang sudah diridhai Allah. Ketika su dah mendapat ridha Allah, maka sudah bernilai ibadah.

Menurut Ustaz Adi, jika Allah sudah ridha artinya sudah ada pahalanya. Dia mencontohkan, para sahabat Nabi SAW yang disebutkan Allah sebagai Radhiyallahuanhum wa ra dhuanhu atau ridha Allah un tuk mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya (QS al-Bayyinah: 8).

Semua aktivitas mereka dijaga sehingga selalu menjadi ibadah. Karena itu, Ustaz Adi menjelaskan, ridhwan bermakna sebagai keutamaan atau kemuliaan akhirat. Ketika Fadhlan dan Ridhwan disandingkan, dimohonkan dan insya Allah dikabulkan, maka akan lahir hamba yang utama baik dari sisi dunia dan akhirat. wallahualam.

 

SUMBER: republika.co.id


ARTIKEL TERKAIT

Tanya Ustadz

FORM TANYA USTADZ